Membiasakan
diri dengan menulis dan mengakrabkan diri dengan menulis, selagi memang ada
waktu senggang disela-sela menikmati lagu-lagu dari Seventeen. Siang-siang ini tepat tanggal 1Maret 2016. Ada beberapa
kejadian yang sebenarnya tidak pantas untuk saya ceritakan, tetapi ada rasa
ingin mengabadikan melalui tulisan agar tak hilang menguap begitu saja. Kejadian
yang takkan saya lupakan disela-sela
perjuangan saya mengikuti beasiswa dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia
yaitu LPDP. Versi secara keseluruhan dari awal perjuangan yaitu tahun 2015
hingga kini saat saya sedang genting-gentingnya menunggu pengumuman seleksi
substansi. Pastinya saya tidak akan menceritakan sekarang sebelum saya takdirkan untuk lolos sampai
tahap Persiapan Pemberangkatan.
Oke
begini ceritanya, awalnya saya menganggap sepele soal perijinan untuk keluar
dari sekolah karena saya akan mengikuti seleksi substansi salah satu beasiswa
bergengsi tahun ini. Saya terbilang Guru yang nyentrik, cuek dengan sekitar dan
cenderung mengikuti alur yang memang sesuai hati dan keinginan saya. Sebagai seorang
Guru saya hanya melakukan kegiatan yang biasa-biasa saja. Membiasakan murid-murid
saya untuk membaca, menulis berbicara dan menyimak, karena memang itu tugas
pokok Saya, oh iya satu lagu, yaitu menghukum siswa yang malas. Karena saya
benci siswa yang malas. Itu tentang saya, sedngkan berikutnya Saya ceritakan
pula bahwa sekolah saya ini sangat special sekali, bahkan berganti guru dalam hitungan hari, karena
saking spesialnya kadang ada beberapa hal yang tidak dapat saya nalar! Pastinya
sahabat sudah tahu bahwa makna special
disini adalah makna yang tidak
sebenarnya.
Singkat
ceritanya pada tanggal 24-25 Februari 2016 ini saya akan mengikuti seleksi
LPDP, saya sudah mempersiapkan semuanya dari Lgd, Essay On The Spot Dan Persiapan Study Plan. Saya tidak teliti bahwa dihari yang sama ada
jadwal ujian praktik Bahasa Indonesia yaitu pidato. Alhasil karena kebetulan jadwal seleksinya pukul 13.00
siang, jadi saya masih ada kesempatan untuk kesekolah dulu menguji uprak dan
selanjutnya pukul 10.00 an saya bisa
ijin. Itu adalah cara simple saya
yang pertama. Okay semua berjalan lancar,
namun cara saya itu tidak direstui oleh sang Maha Skenario. Saya baru sadar
bahwa ternyata kelas IX A saja yang jadwalnya pagi dari pukul 07.30- 09.30.
sedangkan kelas IX B Jadwalnya pukul 13.00-14.30. Saya akhirnya kalang kabut,
kebingungan setangah mati, Saya mau ijin
tapi takut “karena kalau ijin pasti
ditanyai, kan bapak ada nguji uprak?” saya mau jawab apa??
Kepanikan
terjadi dan saya beranikan diri untuk mengambil kitir “benda berharga sejenis kertas kecil yang sacral banget khusus buat
ijin-ijin keluar masuk sekolah”, jadi gini sahabat, disekolah yang saya ajar
ini Guru dengan Murid tidak ada bedanya,
semuanya wajib mematuhi aturan sekolah, ya memang benar sih semua harus sesuai
aturan. Tetapi kadang-kadang terlalu kelewatan huhh. Oke lupakan ya nanti
panjang kalau saya ceritakn, yang
penting kitir sudah ditangan dan akhirnya saya menghampiri sang Kepala Sekolah
yang sedang membariskan murid-muridnya untuk mengikuti uprak biologi. Pasang wajah
memelas dan saya hampiri kepsek dan berkata “Bu saya mau ijin keluar”. Namun
jawabanya tidak sesuai harapan, “nanti
saja ya Pak saya lagi Uprak”. Rontok semua tulang-tulang mendengar jawaban itu.
Hayati sudah capek-capek acting pasang muka memelas! Lol :3
Saya
sudah bingung kepalang tanggung, apalagi teman saya sudah Miss Call Hp saya
berkali-kali dan Ia sudah menunggu saya di depan sekolah. Akhirnya tok tok tok
tok, suara ketokan pintu Pak Satpam dan sembari berkata , “Pak Allan ada
temanya menunggu di depan” oke fix tanpa pikir panjang saya jawab, oke Pak
terimakasih. Tas sudah saya gendong dan
jaket sudah saya kenakan. Masalahnya adalah kitir yang jadi kunci untuk bisa ijin belum
ditandatangani kepsek, oh man, akhirnya setan masuk kea lam bawah sadar saya
dan membisikan kata kata, yang akhrinya saya nekad saya tanda tangani sendiri
dah huh. “ ini jangan ditiru ya? The power
of kefefet” ini adalah kali pertama saya, sungguh berdebar-debar rasanya.
Oke
fix akhirnya saya berangkat sambil lari-larian, takut dikejar satpam, dan
amanlah saya menuju ke Gedung Keuangan Negara untuk mengikuti seleksi Substansi
LPDP. Alhamdulilah, akhirnya bisa melewati serangkaian seleksi dihari pertama “full
version mungkin akan saya tulis ya mengenai perjalanan meraih beasiswa LPDP
setelah tanggal 10 Maret tentunya”.
Sepulang
dari tes dihari pertama, saya sempatkan membaca beberapa pesan Line yang memang seharian sengaja saya abaikan agar
tidak merusak mood saya. Dan dipesan itu tertulis yang menyatakan bahwa saya “Kabur
dari sekolah dan tidak bertanggung jawab”. Tetapi lagi-lagi saya sangat
mencintai murid saya, mereka membela saya mati-matian, padahal memang itu saya
yang salah. Melalui hal itulah saya sadar bahwa murid-murid saya sangat peduli bahkan mereka sampai melawan
Kepala Sekolah dan beberapa Guru lainya.
Melalui
kejadian itu bisa diambil kesimpulan bahwa kita sebagai manusia hanya bisa
berencana, lantas eksekusinya tetap hak Nya yang berhak membolak balikan skenario.
Melalui kejadian itulah sang Maha membolak balikan hati memperlihatkan rasa
kasih sayang murid saya yang tampak nyata sampai dan mengena dihati saya!
Ini nih jadwal seleksi LPDP tahun ini. Saya ambil dari lpdp.depkeu,go.id Simpan baik-baik ya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar